Contoh Penulisan Essay yang Baik Untuk Lomba


Menggali Kembali Konsep Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Upaya Mengikis Konflik Mewujudkan Pilar Perdamaian dan Keadilan SDGs Tahun 2030
Oleh :  Rizky Septiano Andian  

            Pada dasarnya, manusia dilahirkan di dunia ini sebagai mahkluk sosial. Disebabkan hal itu proses interaksi sesama manusia akan selalu terjadi  baik yang dilakukan antar individu, antar komunitas, antar suku, antar golongan maupun antar bangsa. Pada proses interaksi ini seringkali menimbulkan perbedaan kepentingan sehingga timbul konflik yang apabila dilaksanakan secara berkelanjutan dapat menjadi kekerasan (T Jacob,2004). Kekerasan Sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah aksi atau tindakan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menyebabkan kerusakan, cedera, melukai, bahkan memusnahkan property maupun manusia (Collins COBUILD Advanced Learner’s Dictionary 5th Edition 2011). Jika ditinjau lebih dalam, sebenarnya setiap individu di dunia memiliki keinginan untuk hidup secara damai dan selalu berdampingan. Akan tetapi, faktanya dari 21 abad manusia hidup bahkan abad abad sebelum masehi hampir setiap abad diwarnai dengan konflik, kekerasan dan perang. Hal ini terjadi dikarenakan manusia tidak mengerti makna dari perdamaian yang benar dan upaya yang harus dilaksanakan untuk menjaga dari timbulnya konflik.
Kata damai (peace) secara etimologis ditemukan pada abad 12 yang diambil dari bahasa latin yaitu pax yang berarti persetujuan, diam dan keselarasan. Dilihat dalam konteks ini, lawan kata dari peace ini adalah conflict yang diambil dari bahasa Latin conflictus yang berarti membentur, menolak atau tidak selaras (Merriam Webster’s Collegiate Dictionary, 2011). Menurut Charles Webel, Secara umum, perwujudan perdamaian dibagi menjadi 2 yaitu Perdamaian positif dan Perdamaian Negatif. Berbeda dengan Perdamaian negative yang melakukan pendekatan dengan kekuatan yang memaksa, Perdamaian positif lebih menitikberatkan pendekatan nilai dan moral dengan mengedepankan aspek pencegahan. Perdamaian positif menawarkan penyelesaian konflik structural yang terjadi pada masa lalu maupun masa ini dengan harapan agar kedepannya tidak terjadi tindak kekerasan (Dietrich,Fischer, 2007). Perdamaian positif ini melakukan pendekatan dengan cara pembangunan perdamaian melalui jalur ekonomi, sosial, dan lingkungan sekitar agar terciptanya kerjasama yang baik antar individual.
Perdamaian positif tidak hanya bertujuan untuk mewujudkan perdamaian pada setiap individu, tujuan utama diciptakan perdamaian positif ini adalah menunjukkan kehadiran secara simultan dalam membangun pola pikir setiap individu untuk keselarasan, keadilan dan kesetaraan (Charles Webel, 2007). Dengan adanya pola pikir yang baik pada setiap individu memungkinkan terbentuknya kestabilan dalam sebuah Negara. Pertanyaan yang umum ditanyakan saat ini adalah bagaimana cara mewujudkan Perdamaian positif sehingga membentuk kestabilan untuk sebuah Negara Indonesia. Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki penduduk lebih dari 260 juta dan memiliki bermacam macam suku, budaya dan bahasa tentu sangatlah sulit untuk terciptanya tujuan Perdamaian positif ini. Sebenarnya, pernyataan ini tidaklah benar.
Pada saat Indonesia merdeka sampai saat ini, prinsip persatuan telah diserukan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda beda tetapi tetap satu seakan menjadi penunjuk bahwa walaupun Negara Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, budaya dan bahasa tetapi kita tetap satu Indonesia. Lantas, kita kembali bertanya kemanakah hilangnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diikrarkan para pemimpin bangsa terdahulu. Kasus kasus seperti kekerasan terhadap satu agama, penganiayaan terhadap golongan lain hingga intoleran terhadap suku lain merupakan bukti nyata tidak diterapkannya semboyan Bhinneka Tunggal Ika.  Semboyan Bhinneka Tunggal Ika seolah telah terkubur dalam tanah dan hanya menjadi kata kata tanpa arti. penelitian menyatakan bahwa hal tersebut terjadi dikarenakan kerusakan moral, karakter dan pengetahuan bangsa Indonesia.
  Moral, karakter dan pengetahuan ini adalah aspek yang sangat penting bagi sebuah bangsa. Hal ini seperti yang diungkapkan sejarawan  Arnold Tonybee, bahwa dari dua puluh satu peradapan yang dilalui oleh manusia, tercatat ada Sembilan belas abad yang hancur bukan dikarenakan penaklukan dari luar, akan tetapi karena pembusukan moral dari dalam. Dapat kita bayangkan betapa pentingnya menjaga moral dalam sebuah bangsa. Moral disini dimaksudkan sebagai rasa hormat, rasa memiliki dan rasa cinta individu terhadap bangsanya. Yang kedua, selain moral pembentukan karakter juga sangat diperlukan. Dikutip dari Thomas Lickona (2004) mengemukakan bahwa karakter adalah aspek penting dalam sebuah bangsa, adapun ciri ciri orang yang memiliki karakter baik antara lain mengetahui sesuatu baik atau tidak diikuti (knowing the good), menginginkan hal yang baik (desiring the good) dan melakukan hal yang baik pula (doing the good). Dari sini kita dapat mengetahui bahwa moral dan karakter adalah sikap yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang memiliki karakter yang baik dapat mengetahui mana yang benar dan harus diikuti sehingga terbentuk moral baik begitu sebaliknya. Cara membentuk karakter yang baik inilah kunci sehingga terciptanya Bhinneka Tunggal Ika.
Cara pembentukan karakter ini dapat dilakukan jika seseorang individu memiliki pengetahuan tentang negaranya. Inilah yang mendasari terbentuknya aspek ketiga yaitu pengetahuan. Pengetahuan ini didapatkan dapat melalui pembelajaran, akan tetapi 85 persen pengetahuan didapatkan melalui buku. Di Indonesia pengetahuan tentang cinta Tanah Air telah diberikan sejak sekolah dasar pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, akan tetapi hal itu kurang efektif disebabkan siswa hanya mendengar dan tidak mau membaca apalagi untuk mempraktikannya. Fakta menunjukkan pada tahun 2009 Programme for International Student Assessment (PISA) melakukan studi terhadap minat baca terhadap 65 negara. Dari studi tersebut Indonesia menempati urutan 57 dari 65 negara yang dilakukan survey. Hal ini sangat jauh dengan Negara tetangganya Singapura yang menempati posisi kedua dalam survey ini. Oleh sebab inilah Indonesia kekurangan pengetahuan tentang negerinya sehingga kehilangan jati dirinya sebagai Warga Negara Indonesia. Berdasarkan data tersebut telah menunjukkan  beberapa bukti bahwa penyebab hilangnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika disebabkan oleh terkikisnya moral, karakter dan pengetahuan terutama pada generasi generasi muda.
Dari permasalahan permasalahan diatas, saya pribadi memiliki solusi untuk membangun kembali 3 aspek penting tersebut secara berkelanjutan. Saat ini telah ada upaya Primary Health Care di Indonesia bernama Puskesmas yang memiliki tugas untuk mempromosikan dan mencegah penyakit yang terjadi di Indonesia dan tidak mengesampingkan upaya penyembuhan. Ruang lingkup ini adalah setiap kecamatan dan persentase keberhasilannya dapat dinilai dari berapa banyak masyarakat dalam satu kecamatan tersebut yang sehat. Lalu mengapa hal tersebut tidak kita terapkan untuk menumbuhkan 3 aspek penting untuk Perdamaian positif Negara. Maksud saya disini adalah dengan bantuan pemeritah menciptakan lembaga seperti perpustakaan yang memiliki daerah cakupan kecamatan. Lembaga ini tidak bertugas sebagai penyedia buku saja, akan tetapi lebih kepada mengedukasi masyarakat untuk mencintai budaya membaca, melakukan pemberdayaan masyarakat untuk pembentukan karakter yang baik da melakukan pembinaan suasana dengan tujuan terciptanya masyarakat yang bermoral. Lembaga ini berfokus untuk mengembangkan pengetahuan masyarakat seluruh Indonesia untuk mencintai negaranya, memiliki pengetahuan luas sehingga terbentuk karakter dan moral yang baik untuk kembali menggali Bhinneka Tunggal Ika. Lebih lanjut lagi tingkat keberhasilan lembaga ini nantinya dinilai dari seberapa besar pengetahuan masyarakat dan perubahan karakter yang tercermin dari perilaku setiap masyarakat.
Berbekal dengan Bhinneka Tunggal Ika dan 3 aspek penting yang dilakukan, tentunya semakin dekat dengan terwujudnya Perdamaian positif di Indonesia. Dengan dekatnya Perdamaian positif di Indonesia ini memungkinkan turunnya konflik dan kekerasan baik agama,ras,suku dan golongan di Indonesia. Bukan itu saja, ditinjau lebih jauh Perdamaian positif di Indonesia juga akan berdampak pada SDGs di Indonesia. SDGs atau Sustainable Development Goals merupakan agenda pembangunan dunia yang diputuskan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 25 September. Agenda SDGs ini mengacu pada 17 pilar dan diharapkan dapat dipenuhi pada tahun 2030. Dilihat dari 17 pilar yang merupakan tujuan setiap bangsa tersebut, tidak ada satupun pilar yang dapat diwujudkan tanpa adanya perdamaian di Indonesia. Secara tidak langsung perdamaian yang terjaga di Indonesia berpedoman dengan Bhinneka Tunggal Ika dapat menjembatani terwujudnya 17 pilar SDGs di Indonesia.
Dapat disimpulkan bahwa dari dulu hingga sekarang, masih banyak konflik yang menyebabkan kekerasan baik berupa kekerasan suku, agama, ras, golongan tertentu di dunia. Bahkan dapat disimpulkan tidak ada satupun abad yang dilalui tanpa konflik dan kekerasan di dunia ini. Di Indonesia sendiri terdapat semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berperan dalam mengikis konflik dan kekerasan. Akan tetapi makna dari semboyan tersebut dirasa kurang dikarenakan kurangnya aspek moral, karakter dan pengetahuan dari warga negaranya. Untuk itu perlu dilakukan rencana untuk membangun 3 aspek dan menonjolkan lagi makna Bhinneka Tunggal Ika dan menciptakan perdamaian yang bersifat positif di Indonesia. Ketika Perdamaian positif ini terwujud maka terwujudnya juga SDGs bangsa Indonesia yang Merupakan agenda pembangunan oleh PBB dan turut mensejahterakan Indonesia 2030.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Membangun Mental Indonesia Berbasis Bhinneka Tunggal Ika Bagian 1

Identifikasi CAMBRA

Mengukir Budaya Dikala Arus Deras Millenial